Malaka Betun
KEFAMENANU, KOMPAS.com —Sejumlah warga di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terang-terangan menunggu "serangan fajar" (bagi-bagi uang atau barang) dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur NTT putaran kedua yang akan dihelat Kamis (23/5/2013) besok.
"Sampai saat ini kami dengan teman-teman dan keluarga masih menunggu para tim sukses yang rencananya mau lakukan 'serangan fajar', mulai dari malam ini sampai besok pagi. Bagi kami, siapa pun yang datang untuk kasih barang ataupun uang, kami pasti akan terima, tetapi kalau sudah sampai tempat pemungutan suara (TPS), kami sudah punya pilihan sendiri," kata Vinsensius Dua Bala dan Yosef Kefi, dua warga Kefamenanu Utara, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, kepada Kompas.com, Rabu (22/5/2013) malam.
Menurut kedua warga ini, "serangan fajar" sudah menjadi salah satu budaya tersendiri sejak dahulu menjelang pemilihan umum, dimulai dari pemilihan kepala desa sampai pemilihan presiden dan juga legislatif.
"Yang namanya 'serangan fajar' itu bukan barang baru bagi kami sehingga kami anggap itu adalah rezeki nomplok," jelas Vinsensius.
Hal yang sama juga disampaikan Jon Bansae, warga Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang mengaku sudah tidak sabar lagi didatangi tim sukses calon gubernur tertentu.
"Bagi kami, paket mana saja yang datang di rumah, kami selalu terbuka dan welcome. Yang penting tujuannya jelas bahwa untuk 'serangan fajar'. Kalau hanya untuk datang dan sekadar bicara dan mengarahkan kami untuk mendukung salah satu paket tanpa kompensasi yang jelas, akan kami tolak, karena bagi kami, semua ini hanya bohong besar. Dari zaman dulu sampai sekarang, kita masyarakat hanya kaya akan janji, tetapi miskin materi," ungkap Bansae.
Sementara itu, Alfons Seran, warga Betun, Kabupaten Malaka, NTT, mengatakan, siapa pun pemimpin yang akan terpilih nanti, tidak akan berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari sehingga ketika ada momen "serangan fajar", harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
"Menurut saya, 'serangan fajar' adalah momen yang tepat untuk kita perdayai para politisi. Kenapa demikian, karena ketika mereka sudah terpilih nanti, mereka tidak lagi memperhatikan kita. Tidak mungkin pemerintah mau kasih makan kita tiap hari," kata Seran.
Karena itu Seran berharap agar siapa pun pemimpin yang terpilih nanti, harus serius bekerja dengan hati dan perasaan.

Sumber : http://regional.kompas.com