benenain
Sejak Januari 2013 hingga kini,  banjir terus menerjang setiap pekan wilayah kecamatan Malaka Barat kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur (NTT), akibatnya ratusan kepala keluarga tak lagi menghuni rumah mereka karena rusak tertimbun banjir dan lumpur.
Luapan banjir benanain terus menambah penderitaan warga yang bermukim di sepanjang bantaran kali, wilayah kecamatan Malaka yang telah resmi terpisah dengan kabupaten Belu awal mei 2013 lalu.
Sejauh ini belum ada perhatian pemerintah, sebagian warga terpakasa membuat papan penyeberangan darurat di depan rumah masing - masing untuk memperlancar aktifitas ke seberang jalan yang digenangi banjir.
Banjir akibat luapan sungai Benanain terus menerjang sejak bulan Januari 2013 hingga kini,  meski kerap wilayah kecamatan Malaka Barat, tak sedang diguyur hujan.
Banjir ini merupakan malapetaka yang terus dirasakan ribuan jiwa di kawasan bantaran sungai Benanain.
Setiap pekan di musim penghujan banjir selalu menerjang ratusan rumah di enam desa dan merendam hingga sebagian besar pergi meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi.
Ketika musim berganti mereka kemudian kembali lagi dan membersihkan lumpur dan kembali menghuni dalam kewaspadaan karena kerap banjir tiba tiba datang.
Warga setempat Bernadus Bria mengatakan sudah bosan meminta bantuan kepada pemerintah untuk memperbaiki tanggul yang jebol akibat terjangan banjir Benanain awal Januari 2013 lalu, namun tak juga diperbaiki pemerintah. Warga memilih pasrah dan menerima kenyataan.
Sampai berita ini diturunkan  belum ada keterangan dari pihak pemerintah daerah setempat mengenai rencana merelokasi mereka karena selain memperbaiki tanggul juga memikirkan untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi.
Sebagian warga terpakasa membuat papan penyeberangan darurat di depan rumah masing - masing untuk memperlancar aktifitas ke seberang jalan yang digenangi arus banjir, anak - anak kecil dilengkapi dengan pelampung yang terbuat dari dari jerigen.

Sumber: http://www.nttonlinenow.com