malaka
Victorynews-media.com-MELIHAT wajah, tampang, dan pembawaannya, dijamin Anda akan berpikir dua kali untuk menyapanya. Namun di balik wajahnya yang sangar dan berjanggut panjang, ternyata pastor yang satu ini, punya kepedulian yang tinggi terhadap kaum papa.
Dia adalah Edmundus Sako, Pr. Menjadi seorang misionaris, bagi Romo Edmundus, adalah panggilan hidup. Panggilan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta dan menjadi gembala yang setia bagi umat yang membutuhkan sentuhan kasih seturut firman Tuhan.
Suka duka menjadi seorang misionaris telah menjadikannya sebagai pribadi yang tangguh dan peka terhadap kemiskinan yang mendera  masyarakat NTT umumnya dan warga Belu khususnya. Ia hidup dan berbaur dengan masyarakat miskin di setiap tempat tugas yang ia singgahi.
Dia tidak hanya memberi khotbah di atas mimbar. Tapi melakukan aksi nyata di tengah umatnya. Dalam melaksanakan tugasnya, ia berbaur dan menyelami kesulitan hidup umat di setiap tempat tugasnya.
Bahkan ia senantiasa bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk menekan kenakalan remaja dan aksi pencurian di setiap tempat tugasnya. Tidak heran, jika kenakalan remaja dan aksi pencurian di Paroki St Mikhael Biudukfoho dapat dikendalikan. Jika terjadi persoalan di tengah umatnya, ia selalu menemui para pihak yang berselisih dan memberi nasihat dan mendamaikan mereka. Karena itu, pastor yang satu ini tidak saja disegani tapi dicintai umatnya.
Ia juga patut diapresiasi sebagai tokoh pembangunan di Kecamatan Rinhat, Kabupaten Belu. Sebab bukan saja bersama aparat kepolisian setempat menekan kenakalan remaja dan aksi pencurian, ia juga berhasil mambangun budaya swadaya di tengah umatnya. Itu terbukti. Selama bertugas di Paroki St Mikhael Biudukfoho, sudah ada satu gereja dan empat kapela yang dibangunnya.
Bukan hanya itu, misionaris ini juga dipercayai oleh Pemerintah Kabupaten Belu untuk menyalurkan bantuan sapi betina produktif kepada masyarakat tidak mampu di Kecamatan Rinhat, Kabupaten Belu.
Bantuan sapi yang disalurkan pemerintah melalui dirinya, ia bagikan kepada umatnya, tanpa pandang bulu. Semua kepercayaan itu ia laksanakan dengan tetap berpedoman pada visi dan misi karya pastoral Keuskupan Atambua yakni membangun kehidupan masyarakat yang berbudaya, mandiri, penuh dedikasi, dan cinta.
Diakibatkan Pemimpin
Sebagai pastor Paroki St Mikhael Biudukfoho, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Belu, Romo Edmundus lantang berbicara mengenai kemiskinan.
“Kemiskinan adalah salah satu bentuk ketidakadilan. Secara umum  kemiskinan ada dua bentuk, kemiskinan material dan kemiskinan rohaniah,” jelasnya saat berbincag-bincang dengan VN, akhir pekan lalu.
Kemiskinan,  menurutnya, diakibatkan beberapa faktor. Di antaranya kemiskinan yang yang diakibatkan oleh perilaku menyimpang dari para pemimpin sebagai pembuat kebijakan, kemiskinan yang diakibatkan oleh masyarakat sendiri yakni budaya malas dan adat istiadat yakni budaya belis.
Perilaku menyimpang dari para pemimpin saat ini, lanjut dia, terpancar jelas dalam setiap proses realisasi program untuk rakyat miskin. Program pemerintah yang digulirkan kepada masyarakat kebanyakan merupakan program yang tidak mendidik dan cenderung meninabobokan masyarakat. Bahkan program-program seperti bantuan sosial cederung diberikan karena kepentingan politik dan kepentingan pribadi atau golongan.
“Bantuan sosial yang sebenarnya untuk meringankan penderitaan masyarakat malah dikorupsi. Bahkan sering dibagi secara tidak adil sehingga menjadi persoalan baru yang merusak tatanan nilai kemanusiaan yang telah terbangun dalam masyarakat,” katanya. 

Sumber : http://www.victorynews-media.com