korban-banjir
Warga korban banjir yang ditampung di SDI Kaberan Rai
Betun, Pemerintah Kabupaten Malaka berencana membangun pos koordinasi (posko) bencana bersama melibatkan para pihak terkait bencana banjir Kali Benenain di Betun, Ibu kota Kabupaten Malaka.
Sampai saat ini belum ada laporan resmi dari camat Malaka Tengah dan Malaka Barat mengenai jumlah rumah yang rusak, ternak yang mati dan luas lahan pertanian yang terbenam lumpur.
Pemerintah Kabupaten Malaka siap menghadirkan para camat se-Malaka gelar rapat koordinasi untuk mengambil langkah-langkah strategis di lapangan, termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum NTT dan Pemkab Belu untuk mengatasi titik tanggul yang jebol.
Penjabat Bupati Malaka, Herman Naiulu, S.H, M.Hum menyampaikan hal ini kepada Pos Kupang di Desa Bolan, Kecamatan Malaka Tengah, Minggu (23/6/2013) malam. Hadir saat itu Wakil Bupati Belu, Taolin Ludovikus, BA, kepala desa Bolan dan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT.
Herman mengatakan, bencana banjir Kali Benenain yang menggenangi beberapa desa di Malaka Barat dan Malaka Tengah, ia bersama salah satu tokoh masyarakat Malaka, Marthen Bria, telah mengunjungi beberapa desa yang terkena dampak banjir.
Hasil pemantauan itu, kondisi warga sangat memrihatinkan. Langkah yang diambil Pemkab  Malaka adalah berkoordinasi dengan Pemkab Belu untuk mengambil langkah darurat di lapangan agar warga segera dibantu.
Selain itu, kata Herman, berkoordinasi dengan  Pemerintah Propinsi NTT melalui BPBD NTT dan Dinas Sosial NTT untuk membantu warga yang mengalami musibah.  Sampai saat ini, lanjut Herman, data resmi jumlah  rumah yang tertimbun lumpur, ternak yang hanyut, areal pertanian yang rusak belum terdata secara keseluruhan.
Untuk itu, demikian Herman, ia meminta para camat untuk mendata sehingga data itu bisa diteruskan kepada Pemerintah Propinsi NTT untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.
"Kami bangun posko bersama di Betun untuk menampung bantuan dari mana saja. Sejauh ini sudah ada bantuan air bersih enam unit mobil tangki, bantuan beras dari Pemkab Belu, dua unit box bantuan darurat dari BPBD NTT, termasuk satu unit perahu karet untuk mengevakuasi warga yang masih terjebak banjir," tuturnya.
Tentang warga yang sudah terkena dampak banjir seperti penyakit ISPA dan gatal-gatal, Herman mengatakan, dalam rapat koordinasi dengan para camat se-Kabupaten Malaka akan dibicarakan bersama.
Selain itu, lanjutnya, berkoordinasi dengan Kabupaten Belu untuk menurunkan tim medis ke lokasi penampungan warga agar tidak ada dampak ikutan yang lebih serius.
"Untuk tanggul yang jebol kami mengharapkan  segera ditutup sehingga luapan air tidak masuk ke pemukiman penduduk. Kami tunggu sampai kondisi normal baru koordinasikan ke Dinas PU NTT dan Dinas PU Kabupaten Belu untuk menangani secara permanen. Konsentrasi sekarang bagaimana warga yang terjebak banjir dievakuasi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Kami akan turun ke titik penampungan untuk melihat kondisi warga," katanya.
Kepala Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, Andreas Nahak Seran, menginformasikan, kerusakan rumah di desanya lima rumah rubuh, 56 rumah rusak ringan, 780 rumah tergenang banjir, delapan ekor ternak sapi mati, 130 ekor ternak babi mati, ternak kambing 12 ekor dan anjing 26 ekor
Warga saat ini mengalami kesulitan air bersih, sementara lahan pertanian dan perkebunan yang rusak seluas 460 hektar. Lahan sawah seluas 30 hektar tergenang banjir.

Sumber: kupang.tribunnews.com