Oleh: F. Baurae, S.Fil.
rumah-adat-malilorok
Ø Abstraksi
Pada zaman dahulu, semenjak manusia dilahirkan, sesungguhnya ia telah berada dalam suatu lingkungan kebudayaan. Lingkungan inilah yang kemudian turut berperan membentuk kepribadiaan dirinya. Seorang budayawan, E.B Tylor (1987) berpandangan, bahwa “kebudayaan merupakan suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat-istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Disini, ia hendak mengetengahkan kepada kita, bahwa dalam totalitas kehidupan manusia sehari-hari, selalu saja bersinggungan dengan unsur atau nilai-nilai dari suatu kebudayaan. Selain itu, patut digarisbawahi juga adalah, bahwa interaksi sosial atau proses belajar dalam suatu lingkungan masyarakat merupakan unsur terpenting dalam tindakan manusia yang berkebudayaan. Dapat saya katakan, bahwa kebudayaan itu ada, bersamaan dengan adanya manusia.
Wujud kebudayaan dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu budaya yang bersifat abstrak dan budaya yang bersifat konkret (dalam buku Posman Simanjuntak: Berkenalan dengan Antropologi). Rumah adat, merupakan salah satu wujud kebudayaan yang bersifat konkret. Mengingat ia berwujud konkret dari suatu kebudayaan masyarakat tertentu dan merupakan salah satu bentuk dari kebudayaan materi yang dihasilkan dari aktifitas sosial, perbuatan dan karya manusia, maka pertumbuhan dan pekembangan rumah adat pun erat kaitannya dengan sejarah nenek moyang.
Berbicara tentang rumah adat, sebetulnya kita diajak untuk melihat kembali asal-usul kehidupan kita sendiri. Ada orang yang mengatakan, bahwa rumah adat merupakan ungkapan usaha manusia sebagai sarana untuk memahami, menghormati dan memberi arti kepada wujud tertinggi dan kepada arwah leluhur. Rumah adat adalah bagian dari usaha menelusuri misteri eksistensi manusia itu sendiri. Maka, adanya rumah adat, sekiranya menjadi suatu fenomena yang menarik untuk disimak.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa peran rumah adat untuk kehidupan masyarakat zaman dahulu hingga sekarang, masih sangat berarti. Bahkan masyarakat suku tertentu melihatnya sebagai sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan bersama. Mereka menghargai dan menjunjung tinggi adat-istiadat warisan nenek moyang mereka. Hal ini bisa ditemui dalam kehidupan sosial. Dari tradisi seketurunan (satu suku) kemudian terekspose menjadi banyak suku dan banyak kebudayaan baru. Namun, dibalik tradisi lampau itu, tetap saja menyisahkan satu tanggung jawab di masa kini, untuk kita sama-sama mempertahankan dan melestarikan warisan para leluhur yang sangat tinggi nilai sejarahnya itu.

Ø Asal-usul Masyarakat Suku Malilorok (Desa Lakekun Utara, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka)
Berbicra tentang asal-muasal, berarti kita hendak bersoal jawab tentang eksistensi dan siklus kehidupan suatu suku bangsa. Kita diajak sejenak untuk membuka kembali lembaran-lembaran sejarah masa silam untuk menemukan segala sesuatu yang terjadi di sana. Memang sulit untuk kita lupakan, apalagi peristiwa-peistiwa itu bernilai sejarah yang sangat tinggi. Benar kata orang, “experience is the best teacher”. Dan setiap lembar pengalaman membuat orang semakin “dewasa” karenanya.
Pada masa-masa terdahulu, perpindahan suatu suku bangsa dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendapatkan suatu lingkungan dan kondisi hidup yang lebih baik, adalah hal yang lazim dilakukan. Dalam sejarah Kitab Suci Perjanjian Lama, tertulis Musa diutus Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari tindasan orang-orang Mesir. Ini merupakan sebuah sejarah besar yang pernah terjadi di belahan bumi ini. Dengan tuntunan Yahwe, Musa memimpin bangsanya keluar dari rumah perbudakan. Allah menuntun bangsa pilihan-Nya berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke laut Terberau. Demikianlah mereka bertolak dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun. Hingga akhirnya memasuki “tanah terjanji”. Terlepas dari sejarah bangsa Israel, tentu saja setiap orang dan sukunya memiliki perspektif sejarahnya sendiri-sendiri. Begitu pula yang terjadi dan dialami oleh suku besar Malilorok-Welaus.
Sejenak melihat kembali ke belakang, sejarah suku Malilorok, yang sebenarnya adalah berasal dari negara tetangga, Republik Demokrat Timor Leste, (Timor-Timur). Dikisahkan, waktu itu pusat kerajaannya bertakhta persis di puncak gunung Lakirin. Kala itu kerajaan ini dikenal dengan nama Goronto Maukatar. Pada tahun 1912, pemerintah kolonial Belanda memasuki wilayah kekuasaan mereka, yakni Lolotoen dan Maukatar. Belanda dengan segala tipudayanya, melalui politik devide et impera, mereka berhasil memanfaatkan pemimpin-pemimpin “Liurai” di setiap wilayah kekuasaan Malilorok tersebut. Taktik adu domba di antara liurai-liurai ini akhirnya berhasil memecah-belahkan kedaulatan kerajaan Goronto atau Malilorok. Akhirnya pemerintah Belanda berhasil memonopoli seluruh wilayah dan dipaksa keluar semua rakyat Goronto Maukatar ke daerah lain.
Peristiwa eksodus pun dimulai oleh kerajaan Goronto Maukatar. Dibawah pimpinan rajanya, rakyat beserta seluruh kekayaan kerajaan mulai mengadakan suatu babak baru yakni perjalanan keluar wilayah yang panjang dan melelahkan. Rute eksodus dimulai dari daerah asal (gunung Lakirin), menuju ke Lamaknen, kemudian ke Bardao, dilanjut lagi ke Lahurus, dari lahurus mereka mengungsi lagi ke Atambua. Di atambua ini mereka menetap kurang lebih satu setengah tahun di wilayah Uduk Amaleon (sekarang Nenuk). Karena kesusahan makanan, sebagian rakyat perlahan mulai terpencar. Ada yang memisahkan diri ke arah Manufui, Wanibesak, Beikama dan Bolan. Kemudian, dengan sisa rakyat yang masih ada, sang raja melanjutkan perjalanan ke Sabaru (sekarang Lebur). Dari sabaru, mereka menuju lagi ke sulit, kemudian ke Wekakeu (ini disebut kampung lama). Satu tahun menetap, mereka keluar lagi ke Welaus (sebagai kampung baru hingga sekarang). Menurut para pendahulu, kondisi tanah daerah welaus waktu itu sangat subur, selain kaya akan hasil-hasil alam (umbi-umbian, sagu, dll). Inilah yang kemudian menjadi “tanah terjanji” mereka.
Adapun kampung baru yang disebut Welaus itu memiliki maknanya tersendiri. Pada awal tibanya mereka di daerah itu, persis di tengah-tengah hutan itu tumbuhlah sebuah pohon besar didekat sumber air. Maka nama kampung ini diadopsi dari air dan pohon besar tersebut. Dalam bahasa daerah “We” yang artinya air dan “Laus” sendiri adalah nama dari jenis pohon itu. Jadi, kombinasi dari suku kata itu menjadi “We-Laus”. Artinya, air memberi kehidupan untuk pohon Laus. Telaah makna filosofisnya: “tanah dan air inilah yang akan menghidupkan kami dan keturunan berikutnya”. (Semua sejarah singkat ini adalah hasil wawancara saya dengan Bpk. Gabriel Mau Lelo, Bpk. Agus Lelo dan Bpk. Kobus Lelo di rumah adat kebesaran suku Malilorok – Welaus).

Ø Rumah Adat Suku Malilorok di Mata Rumah Adat Lain di Welaus
Pada dasarnya, setiap masyarakat selalu ingin hidup harmonis. Keadaan yang harmonis ini baru akan tercipta, apabila setiap orang bisa hidup bersama tanpa ada sikap egois, sombong, dan pelanggaran tata tertib atau norma-norma setempat. Setiap kehidupan bersama, baik dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam hidup bernegara, selalu memiliki aturan. Aturan merupakan hal yang esensial dalam mengatur dan menegakkan kebenaran kepada setiap individu. Tanpa adanya norma, dapat dipastikan dalam praktek kehidupan bersama akan mengalami banyak kerancuan.
Dalam hidup bersama, masyarakat suku Malilorok juga memiliki normanya. Norma itulah yang membentengi mereka untuk berelasi dengan sesama suku-suku yang lain di Welaus. Relasi timbal-balik diantara suku-suku ini, menghantar mereka menuju integritas sosial yang nampak pada suasana solidaritas, (sebagai orang Bunak atau Marae Timor Leste), saling menghargai dan membantu. Di desa Lakekun Utara, khususnya kampung Welaus, terdapat juga salah satu rumah adat kebesaran yang berdiri sejajar dengan rumah adat Malilorok yaitu: Tuligatal. Selain itu ada juga rumah adat kecil yang lainya seperti: rumah adat monewali, rumah adat Bei Ati, rumah adat Bei Koli, rumah adat Bei Tallo, dan yang lainnya. Semua rumah adat kecil ini merupakan ranting dari kedua rumah adat besar Malilorok dan Tuligatal.
Malilorok dan Tuligatal merupakan kedua rumah adat yang paling besar di desa Lakekun Utara. Hubungan antara kedua rumah adat ini merupakan “bersaudara” (Fetonan). Rumah adat Malilorok statusnya sebagai rumah laki-laki (Na’in Mane). Sedangkan Tuligatal sebagai rumah perempuan (Nain Feto). Hubungan inilah yang membuat kedua suku ini memiliki ikatan kuat dari dulu hingga sekarang. Mereka saling mendukung dan memperhatikan dalam berbagai hal. Apa yang dilakukan atau dikerjakan oleh rumah laki-laki (Malilorok), dilakukan juga oleh rumah perempuan. Salah satu contohnya, jika rumah laki-laki rusak dan hendak diperbaiki, maka rumah perempuan pun harus ikut dibongkar dan diperbaiki, sekalipun sebenarnya rumah perempuan itu tidak rusak. Begitu pula sebaliknya.

Ø Peranan Rumah Adat Suku Malilorok dalam Kehidupan Masyarakat di Desa Lakekun Utara (Welaus).
1. Sebagai Tempat Berdialog atau Bermusyawarah Semua Warga suku Malilorok
Dimana saja, terdapat berbagai wadah untuk melaksanakan musyawarah atau dialog bersama. Dalam lingkungan yang terbatas, ada organisasi rukun tetangga. Di desa-desa, terdapat Lembaga Musyawarah Desa (LMD) dan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Di tempat itu, para warga dapat bermusyawarah mendiskusikan masalah dan menemukan solusi yang tepat untuk kepentingan bersama.
Dalam kehidupan masyarakat Malilorok di desa Lakekun Utara, Kecamatan Kobalima pun demikian adanya. Rumah adat digunakan sebagai tempat untuk berdialog. Dialog atau diskusi ini, dilaksanakan di ruangan yang disebut Lobor Dato. Tempat ini biasa digunakan dan dianggap penting sebagai cara terbaik untuk memecahkan Persoalan bersama menyangkut kelangsungan hidup suku. Tetapi, tidak semua hal dibicarakan di Lobor Dato ini. Hal-hal yang diangkat hanya menyangkut kepentingan dan tanggung jawab anggota suku saja.
Diskusi yang berlangsung itu dipimpin oleh beberapa pemuka tua adat dan dihadiri semua anggota suku. Para tua adat yang memimpin jalannya musyawarah ini harus mempunyai pemahaman yang luas, argumentasi yang sehat dan berkualitas. Dengan berbagai masukan dan pendapat dari para anggota, akhirnya dicapailah kata sepakat.
2. Sebagai Sarana Pemersatu
Ditinjau dari berbagai segi kehidupan bermasyarakat, rumah adat dapat dikatakan sebagai sarana pemersatu. Jika, ditelaah dari sisi religiusitas, rumah adat bersifat vertikal dalam hubungan antara manusia dengan arwah-arwah leluhur. Karena itu, rumah adat diyakini sebagai mediasi pemersatu antara dunia nyata dan dunia semu (alam baka), dan menyingkapkan tiga dimensi waktu, yakni: dunia kemarin (masa lampau), dunia sekarang (masa kini), dan dunia yang akan datang (masa depan). Sedangkan, jika dilihat dari kaca mata ilmu filsafat, rumah adat merupakan landasan hidup manusia, karena sebagai titik mula dan titik tuju semua aktifitas manusia. Maka, yang mau diketengahkan adalah unsur persatuan dan kesatuannya.
Kapan dan dimana saja, manusia selalu hidup bersama dengan yang lain (No man is an Island). Karena pada hakekatnya, setiap individu selalu membutuhkan bantuan dan campur tangan individu yang lain, untuk saling menopang satu dengan yang lainnya. Dalam kehidupan masyarakat suku Malilorok, mereka meyakini, bahwa rumah adat dapat mempersatukan mereka dengan para leluhur mereka dan dengan sesama yang lain. Filosofinya adalah, bahwa “manusia ada bukan untuk dirinya melainkan ada di dalam solidaritas dengan sesamanya” (eksistensi mereka adalah juga eksistensi mereka dengan sesama yang lain). Dari kebersamaan itu, mereka semakin didekatkan dalam bingkai persaudaraan. Saling membantu dan menolong, penuh rasa persatuan dan kesatuan sebagai orang-orang yang berbudaya. Sehingga, terciptalah kehidupan yang rukun, serasi, selaras dan seimbang di dalam hidup keseharian mereka.
3. Sebagai Tempat Berelasi dengan Wujud Tertinggi dan Para Leluhur
Pada intinya, manusia ada dari ketiadaan. Dari ketiadaan, ia menjadi ada karena adanya “ADA” (ada universal, yang melingkupi seluruh realitas). Hidup adalah sebuah anugerah dari sang “Creator ex Nihilo”. Dalam arti, bahwa manusia meyakini adanya kekuatan lain yang melampaui keberadaan manusia itu sendiri. Manusia menginsyafi, bahwa antara dunia bawah (alam, tempat manusia hidup) dan dunia atas (langit, adanya “ada” yang tak terhingga) harus ada satu ikatan atau hubungan yang erat. Menyikapi itu, maka manusia membangun relasi lewat berbagai upacara adat yang ditujukkan semata-mata untuk menghormati sang pencipta.
Dalam masyarakat suku Malilorok, ada penghormatan terhadap terhadap “wujud tertinggi” itu. Rumah adat, menyatukan mereka, dan para leluhur menjadi perantara untuk berelasi dengan dunia atas yang tak terlampaui. Rumah adat dalam pandangan suku Malilorok, merupakan “gerejanya” agama asli mereka. Atau dengan kata lain, rumah adat Malilorok berfungsi sebagai “Mediator Dei et Hominum” (perantara Allah dan manusia). Rumah adat juga digunakan sebagai sarana untuk menghormati dan memohon berkat dari para leluhur atau nenek moyang untuk kepentingan suku. Hal ini nampak dalam ritual memberikan sesajian, dengan harapan agar apa yang akan mereka lakukan dapat disertai oleh para leluhur.

Ø Pengaruh Rumah Adat dan Upacara Adat dalam Kehidupan Menggereja Anggota Suku Malilorok
Dewasa ini, zaman telah berubah. De facto, persepsi setiap anggotanya pun mengalami pergeseran nilai. Semua yang terjadi sekarang berbeda dengan dimensi kehidupan para pendahulu, dalam arti pemaknan terhadap peran rumah adat untuk kehidupan iman mereka. Pada zaman dahulu, nenek moyang mereka belum terlalu mengerti akan pengetahuan agama yang sebenarnya. Namun kita bisa menilai, bahwa para leluhur adalah juga masyarakat yang beriman kepada Tuhan, sekalipun mereka hanya bisa mengartikan Tuhan yang kita imani sekarang itu sebagai “wujud tertinggi” yang tidak bisa diinderai. Konsep para leluhur yang sederhana ini, kemudian lebih mendapatkan pencerahannya di zaman sekarang dengan masuk dan berkembangnya agama Kristen Katolik hingga sekarang (suku Malilorok mayoritas beragama Katolik).
Dari konsep-konsep primitif kebudayaan dan perkawinannya dengan ajaran-ajaran agama Katolik, mereka mulai mentransformasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan menggereja mereka. Hampir dipasikan, bahwa tidak ada hambatan bagi mereka dalam menjalankan ritual kebudayaan dan kegiatan kerohanian. Mereka bisa menjaga kelangsungan hubungan kegiatan dari rumah adat dan gereja dengan baik. Bahwasannya, kebudayaan suku Malilorok turut mendukung gereja dan juga sebaliknya dari gereja memberikan andilnya tersendiri untuk masyarakat Malilorok secara proporsional.
Seseorang baru bisa dikatakan beriman, apabila dia betul-betul menghayati imannya serta mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan mereka tahu, bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak. 2: 17). Setidaknya karena faktor-faktor inilah yang menggerakkan semua anggota suku Malilorok untuk aktif dalam kegiatan kerohaniaan setempat (aktif di gereja St. Mikhael Kada. Tanggung koor, membersihkan gereja, katekese, dll). Dengan berbagai upacara, mereka memuji dan mengagungkan-Nya. Demikian mereka menjadi manusia yang beriman pada Sang penyelenggara kehidupan. Menjalani hidup dengan bertumpu pada Allah yang menyelamatkan.

Ø Usul-Saran
Sadar, bahwa kebudayaan-kebudayaan daerah ini semakin mendapatkan tantangannya lewat derasnya arus globalisasi, maka sebagai akhir dari tulisan ini, saya mau mengingatkan secara umum kepada semua generasi tua dan muda Malaka, bahwa kabupaten Malaka adalah daerah yang memiliki beragam potensi dan kebudayaan, salah satunya adalah yang saya angkat dalam tulisan ini (rumah adat). Selebihnya, ada macam-macam tarian daerah Malaka, seperti: Tebe dan Likurai. Ada juga lagu-lagu daerah atau pantun (ai knanuk), serta ritual adat atau seni atraksi daerah Malaka yang lainnya. Perlu diketahui, bahwa kebudayaan-kebudayaan kita ini sudah turut memberi warna lain dalam khasana budaya nasional Indonesia. Karena itu, besar harapan saya untuk kita bersatu hati, berjuang mengangkat dan melestarikan keaslian kebudayaan-kebudayaan lokal yang ada ini. Berusahalah memfilterisasi secara cermat masuknya budaya dari luar daerah, sehingga tradisi warisan khas daerah kita tidak terganggu atau hilang lenyap, melainkan tetap terjaga dengan baik. Mari kita bekerja sama dalam melestarikan dan mengembangkannya. Ingat, kebudayaan Malaka adalah cerminan kepribadian Malaka. Dari sanalah kita menemukan jati diri kita yang sebenarnya, yang luhur lagi beradab sebagai orang-orang Malaka….***

"Anda Dapat Mengirimkan Berita, Artikel atau Opini Anda Melalui Pesan di Halaman Facebook Malaka News atau Dikirim Via Email ke Alamat jefrynawa@gmail.com. Semoga Hari Anda Menyenangkan."