Oknum Polisi Diduga Peras Penumpang KM Sirimau Asal Malaka

Betun – Nekat dan benar-benar keterlaluan oknum petugas polisi KP3 laut Tenau, Polresta Kupang, diduga melakukan pemerasan terhadap enam orang desa asal Malaka (Belu), yang hendak ke Kalimantan. Modusnya menahan tiket enam orang ini yg sedianya hendak menumpang kapal Siri Mau menuju Batulicin, Kalimantan.
Mereka hendak mendatangi saudara-saudaranya yg sudah terlebih dahulu bekerja disana. Namun saat tiba di pintu terminal Tenau Kupang, dimana biasanya tiket-tiket diperiksa, mereka yang kebetulan berjalan bergerombol ini ditahan tiketnya oleh beberapa petugas polisi yang bertugas pada Jumad (26/7) itu.
Saat dihubungi melalui ponsel milik salah seorang petani tersebut untuk dimintai konfirmasinya, salah seorang oknum polisi yg mengaku petugas KP3 Laut, mengakui namanya Ricky, setelah sebelumnya sempat menolak menyebut namanya, mengatakan telah menginterogasi keenam orang tersebut namun tiket-tiket mereka ditahan karena tidak memiliki surat kontrak kerja dari perusahan yg dituju.
Entah ini sudah diinstruksikan oleh pimpinan mereka, oknum yg mengaku Ricky itu menolak untuk mengembalikan tiket keenam orang. "nanti lihat saja dari kebijakan komandan kami.
"Ricky juga menolak memberikan nomor ponsel komandannya saat diminta, "Tidak sembarangan orang mendapat nomor ponsel komandan kami," tolaknya. Namun dia sempat berjanji akan memberikan nomor dimaksud bila diizinkan sang komandan.
Rupanya janji itu hanya sekedar janji bual oknum polisi KP3 Tenau. Karena yang mereka lakukan kemudian adalah meminta uang dari keenam orang petani desa yang saat berangkat pun pinjam sana-sini dengan bunga tinggi hingga diatas 100 persen. Ini terungkap beberapa waktu setelah kami hubungi keenam petani tersebut untuk mengetahui nasibnya.
Melalui telefon mereka bercerita, bahwa mulanya para oknum polisi yang disebutkan berjumlah lima orang itu akan diberikan dua ratus ribu Rupiah, namun mereka menolak. Demikian juga saat para petani yang beberapa diantaranya hanya tamat SD itu menaikkan tawaran naik ke 300 ribu rupiah, namun ditolak juga.
Angka 600 ribu rupiah pun disebutkan oknum polisi, yg seperti dikatakan Anis Bouk, salah seorang petani itu juga menyebutkan ciri-ciri sang oknum polisi berkulit hitam dengan rambut keriting serta berjacket. Namun oknum polisi tersebut meminta agar penyerahan uang itu dilakukan dengan cara sembunyi.
Diberitakan Anis Bouk, setelah mengumpulkan uang dari teman-teamnya yang juga merupakan keluarganya sendiri itu, lalu diarahkan untuk duduk merapat disebelah kanan sang oknum polisi tadi yang telah terlebih dahulu duduk di lantai teras bangunan terminal.
Polisi yang disebutkan berkulit hitam dan berambut keriting yang sebelumnya mengakui namanya Ricky saat kami hubungi itu, kemudian meminta uang diserahkan. Uang pun disodorkan, sang oknum polisi lalu mengembangkan jacketnya, menutupi sodoran Rp 600 ribu saat menerimanya dari samping, agar tidak terlihat orang.
Kami berusaha mendapatkan nomor ponsel Kapolresta Kupang untk konfirmasi 'kebijakan' anak buahnya dilapangan, namun, teman2 yg kami hubungi, tak seorangpun yg mengetahui nomornya.
Menurut para petani asal desa Ikan Tuanbeis, Kecamatan Io Kufeu, Daerah Otonom Baru (DOB) Malaka, pemekaran dari Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengalami nasib naas karena diperas para oknum polisi KP3 Laut Tenau Kupang, salah seorang diantara mereka sempat dua kali memfoto oknum polisi yang melakukan pemerasan tersebut, berjanji untuk mengirimkan foto dimaksud, namun mungkin karena kesulitan pengiriman, dua foto tsb belum kami terima.
Sementara Chiriakus Kiik, salah seorang wartawan asal Belu yang sempat disebut-sebut akan juga dikirimi foto tersebut juga mengaku belum menerima foto dimaksud, saat kami konfirmasi Sabtu (27/7) pagi tadi.

Sumber: www.nttonlinenow.com